Sejak para jong seNusantara mendeklarasikan mimpi kebangsaan tahun 1928, tampaknya kita terus mengalami gagal lepas landas, sampai hari ini.
-
-
Ten tweet jest niedostępny.
-
W odpowiedzi do @MerahHaji
Kita tidak mungkin tahu Sukarno berpikir apa ketika merumuskan kalimat itu. Ada beberapa kemungkinan, tentunya.
2 odpowiedzi 0 podanych dalej 0 polubionych -
W odpowiedzi do @kopiganja @MerahHaji
Bisa saja karena keyakinan yang tulus. Bisa juga pencitraan, agar diterima khalayak relijius. Bisa juga merasa superior, tapi nggak sadar.
1 odpowiedź 0 podanych dalej 0 polubionych -
W odpowiedzi do @kopiganja @MerahHaji
Benar, kita jadi sebangsa karena takdir. Tapi takdir yang sama juga membuat kita berbeda-beda agama, keyakinan dan sikap hidup.
2 odpowiedzi 0 podanych dalej 0 polubionych -
W odpowiedzi do @kopiganja @MerahHaji
Anda tentunya merdeka untuk meyakini kesatuan ini adalah bagian dari sunatullah. Tapi apakah yang lain juga harus meyakini hal yang sama?
5 odpowiedzi 0 podanych dalej 0 polubionych -
Ten tweet jest niedostępny.
-
W odpowiedzi do @MerahHaji
Betul. Tapi apakah kita akan senantiasa insist bahwa agama — terlebih agama kita sendiri — adalah satu-satunya cara untuk mencapai keadilan?
1 odpowiedź 0 podanych dalej 0 polubionych -
W odpowiedzi do @kopiganja @MerahHaji
Lalu, pada tataran mana? Mengimani agama sebagai sikap hidup, ataukah memberanikan diri jadi penafsir kata Tuhan dalam perundang-undangan?
1 odpowiedź 0 podanych dalej 0 polubionych -
W odpowiedzi do @kopiganja @MerahHaji
Apakah cukup kita terinspirasi nilai-nilai ilahiah (misalnya, keadilan) dan menerapkannya dalam hukum manusiawi..
1 odpowiedź 0 podanych dalej 0 polubionych
.. atau kita nekat menjadi penerjemah Allah dan ambil teks suci secara harafiah tanpa mengkaji maqasid di baliknya?
Wydaje się, że ładowanie zajmuje dużo czasu.
Twitter jest przeciążony lub wystąpił chwilowy problem. Spróbuj ponownie lub sprawdź status Twittera, aby uzyskać więcej informacji.