...tentu jika dibandingkan dengan "menunggu perfect solution" hingga climate collapse, jelas mana yg short-sighted @kopiganja
-
-
W odpowiedzi do @VeritasArdentur
@VeritasArdentur coba dikesampingkan dulu itu "menunggu perfect solution". Terminologi anda bias industri banget soalnya.1 odpowiedź 0 podanych dalej 0 polubionych -
W odpowiedzi do @kopiganja
@kopiganja Terminologi tsb ndak bias. Itu realistis. Karena memang ndak bisa tiba2 demand dan supply chain muncul ketika PS datang.1 odpowiedź 0 podanych dalej 1 polubiony -
W odpowiedzi do @VeritasArdentur
@VeritasArdentur bias bro. Persamaan lo variabelnya cuma satu: karbon. Itu pun nggak hitung kapasitas penyerapan karbon hutan hujan tropis.2 odpowiedzi 0 podanych dalej 0 polubionych -
W odpowiedzi do @kopiganja
Saya bias ke menganggap GW itu sebagai ancaman yang paling mendesak dan riil. Bukan ke industri. Bs saja anda benar GW bkn utama
@kopiganja1 odpowiedź 0 podanych dalej 0 polubionych -
W odpowiedzi do @VeritasArdentur
@kopiganja Dari kalkulasi karbon bisa dengan mudah disimpulkan: GW toh akan musnahkan keanekaragaman hayati tersebut, jika kita menunggu5 odpowiedzi 0 podanych dalej 0 polubionych -
W odpowiedzi do @VeritasArdentur
@VeritasArdentur ketika ada orang yang mengusung solusi tunggal dan dismiss solusi lain, kita patut pertanyakan kredibilitasnya. Pasti bias.1 odpowiedź 1 podany dalej 0 polubionych -
W odpowiedzi do @kopiganja
@kopiganja Ini strawman fallacy, saya tidak mengusung solusi tunggal, sudah saya jabarkan panjang lebar, target menuju algae2 odpowiedzi 0 podanych dalej 0 polubionych -
W odpowiedzi do @VeritasArdentur
@VeritasArdentur but when you come up with "destroy some forest to save humanity", sorry, that's just irresponsible, not to mention baseless1 odpowiedź 1 podany dalej 0 polubionych -
W odpowiedzi do @kopiganja
Well, how would you expect to plant GMO Palm then? When we strip all the doublespeaks, that is the conclusion
@kopiganja3 odpowiedzi 0 podanych dalej 0 polubionych
@VeritasArdentur most fossil fuel is burned, wasted in megapolises like Jakarta. Build public transport, forgodsakes!
Wydaje się, że ładowanie zajmuje dużo czasu.
Twitter jest przeciążony lub wystąpił chwilowy problem. Spróbuj ponownie lub sprawdź status Twittera, aby uzyskać więcej informacji.