Sejak UU Otonomi Daerah 2004 daerah sdh berperan besar kan. Masalahnya justru seperti yg dibilang @kisbet_ : pembangunan di daerah sering dikritik. Mungkin (sebagian) benar tapi kl terus2an daerah ga dibangun ya orang2nya lari ke kota. Jadi kuli, jd PKL, jd aktivis.. wkwkwk
-
-
Ogitu. Tapi kok malah banyak banget buruh harian di perkebunan, penambang liar di Kalimantan, kuli bangunan di Bali, bahkan PSK di gubuk-gubuk tepi jalan di pelosok itu dari Jawa ya? Apakah Jawa kurang dibangun sampai mereka harus bedol desa bahkan sampai pedalaman Papua sana?
2 odpowiedzi 1 podany dalej 4 polubione -
Bukan cuma Kalimantan toh? Sampai kebun2 sawit di Serawak dan Sabah juga isinya orang Jawa. Udah dibangun tapi masih kurang. Lapangan pekerjaan baru tak sebanding pertumbuhan TK. Bikin kawasan industri ditentang, mau narik investasi dibilang jual TK murah..
3 odpowiedzi 5 podanych dalej 1 polubiony -
Oooo.. saya kira selama ini buruh-buruh dan PSK dari Jawa itu kehilangan tanah di daerah asalnya karena dibangun mal-mal dan industri di pinggiran kota sehingga harus mengadu nasib sampai ke pelosok gitu. Terima kasih, om, pencerahannya. Memang luar biasa NKRI ini.
1 odpowiedź 2 podane dalej 4 polubione -
Anda sama sekali ga tahu apa yang Anda omongin. Bukan alih fungsi masalah utamanya tapi kepemilikan tanah per keluarga makin kecil. Penduduk makin banyak, tanah dibagi-bagi sbg warisan akhirnya dijual. Baru jd pabrik Aku anak desa Jawa. Hal2 spt itu aku lihat sendiri
4 odpowiedzi 4 podane dalej 10 polubionych -
W odpowiedzi do to @ngabdul@kopiganja i jeszcze
Sama om, di Tanah Karo atau Tapanuli jg gt. 1 Keluarga punya lahan, anak ada 10 . Kalau dibagi 10 mana cukup. Makanya budaya merantau org sana masih kental.
1 odpowiedź 1 podany dalej 0 polubionych -
W odpowiedzi do to @freywalis@ngabdul i jeszcze
Di Tangerang sebenarnya begitu juga. Keluarga yg masih sanggup beradaptasi, bersaing dengan pendatang, bertahan di lahan warisan yg udh dibagi2 dan sempit, kadang diisi 3 generasi. Yang masih pingin pegang budaya santai bertani/ternak ya jual tanah di kota, pindah ke pinggiran
1 odpowiedź 0 podanych dalej 0 polubionych -
W odpowiedzi do to @adisetyop@freywalis i jeszcze
Bayangkan, hidup di negara di mana orang harus menjual tanah untuk bisa melanjutkan sekolah, berobat ketika sakit parah, hajatan nikah, naik haji, naik kelas sosial, dan itu semua diterima dan tidak ada yang dipertanyakan. Terima kasih atas testimoninya, semua.
1 odpowiedź 0 podanych dalej 2 polubione -
W odpowiedzi do to @kopiganja@adisetyop i jeszcze
Itu kan terjadi di seluruh dunia, proses industrialisasi. Tak mungkin manusia yg jumlahnya terus bertambah semua bekerja sbg petani. Sebagian besar akhirnya akan meninggalkan pedesaan dan menjadi pekerja industri+jasa
3 odpowiedzi 2 podane dalej 2 polubione -
W odpowiedzi do to @ngabdul@adisetyop i jeszcze
Ngga ada yang sedang menganjurkan orang-orang harus tetap jadi petani/miskin. Anda salah kira, om. Kita sedang bicara soal ketercerabutan ekonomi dan sosial (displacement) yang sering terjadi secara tidak adil, tanpa konsultasi, tanpa partisipasi, dengan pemaksaan/keterpaksaan.
1 odpowiedź 0 podanych dalej 1 polubiony
Di tempat saya tinggal, misalnya, yang dilakukan makelar-makelar tanah di tempat yang tadinya hamparan sawah subur adalah subaknya diputus. Sawah tidak bisa diairi, lalu pemilik dipaksa menjual. Sawah-sawah itu kini jadi kawasan villa yang dibangun tanpa tata ruang yang jelas.
-
-
W odpowiedzi do to @kopiganja@ngabdul i jeszcze
Makelar-makelar itu biasanya terafiliasi dengan ormas lokal. Antar ormas juga saling berebut. Quite literally, a turf war, berdarah-darah. Hal serupa juga terjadi sepanjang pesisir Nusa Tenggara dalam rangka megaproyek "10 Bali Baru" ini, di Kalimantan sejak Orba. You know this.
1 odpowiedź 0 podanych dalej 2 polubione -
W odpowiedzi do to @kopiganja@ngabdul i jeszcze
Sebelum sawit, rebutan konsesi pembalakan. Aktornya ormas besar legendaris dengan atribut nasionalis. Lahan masyarakat adat diambil begitu saja tanpa FPIC. Terjadi konflik agraria. Orang-orang tercerabut secara ekonomi dan sosial.
2 odpowiedzi 0 podanych dalej 1 polubiony - Pokaż odpowiedzi
Nowa rozmowa -
Wydaje się, że ładowanie zajmuje dużo czasu.
Twitter jest przeciążony lub wystąpił chwilowy problem. Spróbuj ponownie lub sprawdź status Twittera, aby uzyskać więcej informacji.