Nyang Betawi sebenernya pengen ya Jakarta jadi kayak gini?https://twitter.com/kisbet_/status/1321459350804656133 …
-
Pokaż ten wątek
-
W odpowiedzi do @adisetyop @kopiganja
Justru kalau daerah dibangun orang daerah ga perlu cari cahaya gemerlap di Jakarta dan merusak habitat orang Betawi toh? Waktu ane pindah Jakarta desa ane listrik aja nyala cuma 6 jam, jalan blm diaspal. Ikutan lah pindah Jakarta dan beli rumah hasil penggusuran kampung Betawi
1 odpowiedź 2 podane dalej 4 polubione -
W odpowiedzi do @ngabdul @kopiganja
Haha jadi ingat pulau pramuka tahun 2010. Listrik masih cuma nyala 8 jam aja sehari. Yah yg dekat aja luput dari pengambil keputusan yg sama2 di Jakarta. Selain itu mungkin ada alasan lain mengapa daerah tidak dibiarkan merencanakan sendiri pembangunan...
1 odpowiedź 1 podany dalej 1 polubiony -
W odpowiedzi do @adisetyop @kopiganja
Sejak UU Otonomi Daerah 2004 daerah sdh berperan besar kan. Masalahnya justru seperti yg dibilang
@kisbet_ : pembangunan di daerah sering dikritik. Mungkin (sebagian) benar tapi kl terus2an daerah ga dibangun ya orang2nya lari ke kota. Jadi kuli, jd PKL, jd aktivis.. wkwkwk2 odpowiedzi 8 podanych dalej 7 polubionych -
Ogitu. Tapi kok malah banyak banget buruh harian di perkebunan, penambang liar di Kalimantan, kuli bangunan di Bali, bahkan PSK di gubuk-gubuk tepi jalan di pelosok itu dari Jawa ya? Apakah Jawa kurang dibangun sampai mereka harus bedol desa bahkan sampai pedalaman Papua sana?
2 odpowiedzi 1 podany dalej 4 polubione -
Bukan cuma Kalimantan toh? Sampai kebun2 sawit di Serawak dan Sabah juga isinya orang Jawa. Udah dibangun tapi masih kurang. Lapangan pekerjaan baru tak sebanding pertumbuhan TK. Bikin kawasan industri ditentang, mau narik investasi dibilang jual TK murah..
3 odpowiedzi 5 podanych dalej 1 polubiony -
Oooo.. saya kira selama ini buruh-buruh dan PSK dari Jawa itu kehilangan tanah di daerah asalnya karena dibangun mal-mal dan industri di pinggiran kota sehingga harus mengadu nasib sampai ke pelosok gitu. Terima kasih, om, pencerahannya. Memang luar biasa NKRI ini.
1 odpowiedź 2 podane dalej 4 polubione -
Anda sama sekali ga tahu apa yang Anda omongin. Bukan alih fungsi masalah utamanya tapi kepemilikan tanah per keluarga makin kecil. Penduduk makin banyak, tanah dibagi-bagi sbg warisan akhirnya dijual. Baru jd pabrik Aku anak desa Jawa. Hal2 spt itu aku lihat sendiri
4 odpowiedzi 4 podane dalej 10 polubionych -
W odpowiedzi do to @ngabdul@kopiganja i jeszcze
Sama om, di Tanah Karo atau Tapanuli jg gt. 1 Keluarga punya lahan, anak ada 10 . Kalau dibagi 10 mana cukup. Makanya budaya merantau org sana masih kental.
1 odpowiedź 1 podany dalej 0 polubionych -
W odpowiedzi do to @freywalis@ngabdul i jeszcze
Di Tangerang sebenarnya begitu juga. Keluarga yg masih sanggup beradaptasi, bersaing dengan pendatang, bertahan di lahan warisan yg udh dibagi2 dan sempit, kadang diisi 3 generasi. Yang masih pingin pegang budaya santai bertani/ternak ya jual tanah di kota, pindah ke pinggiran
1 odpowiedź 0 podanych dalej 0 polubionych
Bayangkan, hidup di negara di mana orang harus menjual tanah untuk bisa melanjutkan sekolah, berobat ketika sakit parah, hajatan nikah, naik haji, naik kelas sosial, dan itu semua diterima dan tidak ada yang dipertanyakan.
Terima kasih atas testimoninya, semua. 
-
-
W odpowiedzi do to @kopiganja@adisetyop i jeszcze
Itu kan terjadi di seluruh dunia, proses industrialisasi. Tak mungkin manusia yg jumlahnya terus bertambah semua bekerja sbg petani. Sebagian besar akhirnya akan meninggalkan pedesaan dan menjadi pekerja industri+jasa
3 odpowiedzi 2 podane dalej 2 polubione -
W odpowiedzi do to @ngabdul@kopiganja i jeszcze
Yang masalah kalau industrialisasinya tak lancar, tak mampu menampung limpahan penduduk yg keluar dari pertanian. Akhirnya pada bekerja serabutan di kota, masuk sektor informal, jadi PKL dll. Seperti terjadi di Indonesia skr ini
0 odpowiedzi 2 podane dalej 0 polubionych
Koniec rozmowy
Nowa rozmowa -
Wydaje się, że ładowanie zajmuje dużo czasu.
Twitter jest przeciążony lub wystąpił chwilowy problem. Spróbuj ponownie lub sprawdź status Twittera, aby uzyskać więcej informacji.