Yang bikin bergidik justru adalah komentar-komentar kontra netizen yang begitu ramai. Saya hampir menyamakan komentar-komentar itu dengan: buruh kok naik ninja, buruh kok hapenya iPhone, mau hidup enak ya kerja keras bukan demo, dst. dst. Ada bedanya tapi juga ada samanya.
-
Pokaż ten wątek
-
Bedanya: buruh melarat dan dieksploitasi, si peminta sumbangan hidup enak.
1 odpowiedź 3 podane dalej 13 polubionychPokaż ten wątek -
Samanya, komentar-komentar itu menggambarkan betapa netizen: 1. bisa menormalisasi kerja berdarah-darah meski tak kunjung hidup enak, tetapi 2. tak bisa menoleransi orang yang hidup enak tanpa harus berdarah-darah, meskipun dia tak mengeksploitasi orang, tak menipu, dll.
1 odpowiedź 47 podanych dalej 60 polubionychPokaż ten wątek -
"Ironis ya, saat orang lain kerja keras banting tulang biar sekadar kasih makan anak, ini orang kaya malah minta sumbangan cuma untuk obsesi kuliah di kampus internasional." Kenapa ironisnya malah bukan di: kok bisa, orang kerja keras cuma cukup untuk kasih makan anak?
3 odpowiedzi 49 podanych dalej 55 polubionychPokaż ten wątek -
Betapa kapitalisma telah menginternalisasi kemiskinan ke dalam batok kepala semua orang. Orang bisa menganggap hidup susah sebagai sesuatu yang lebih normal, hidup enak dengan cara yang tidak keras.
2 odpowiedzi 53 podane dalej 42 polubionePokaż ten wątek -
Orang hidup ya sudah semestinya keras, orang hidup yang harus berani capek, bayaran sedikit ya disyukuri, kalau mau kaya ya kerja lebih keras. Dari premis itu, berkembang menjadi: semua orang yang mau hidup enak dengan cara gampang, berarti jelek. Harus dibully.
3 odpowiedzi 38 podanych dalej 50 polubionychPokaż ten wątek -
Premis yang jika terus dipelihara, niscaya akan melanggengkan eksploitasi. Semangat kolektif kita bukan lagi bagaimana bisa sama-sama hidup enak, melainkan bagaimana agar orang lain tidak hidup lebih enak dengan cara yang lebih mudah dari kita. Semangat kolektif melarat.
1 odpowiedź 61 podanych dalej 56 polubionychPokaż ten wątek -
Di saat yang sama, orang oke-oke aja ada kelas yang hidup enak dengan cara mudah yang lain: eksploitasi. Kapitalisma yang mengambil paksa hasil kerja mereka dan membuat hidup penuh keceketeran, justru diterima sebagi hal yang lumrah, dinormalisasi. Tampan betul.
1 odpowiedź 7 podanych dalej 16 polubionychPokaż ten wątek -
Massifnya reaksi kontra ini bikin bergidik. Saya jadi penasaran, apakah untuk konteks yang lain, netizen juga akan mensyaratkan hal-hal berat agar orang bisa hidup enak? LPDP tak boleh jalan-jalan? Buruh tak boleh beli iPhone? Anak kiri tak boleh nongkrong di Starbucks?
3 odpowiedzi 18 podanych dalej 33 polubionePokaż ten wątek -
Ya sudah, intinya adalah ... Saya bersama Gustika.
6 odpowiedzi 1 podany dalej 9 polubionychPokaż ten wątek
Aku bersamamu, mas 
-
-
-
- Pokaż odpowiedzi
Nowa rozmowa -
Wydaje się, że ładowanie zajmuje dużo czasu.
Twitter jest przeciążony lub wystąpił chwilowy problem. Spróbuj ponownie lub sprawdź status Twittera, aby uzyskać więcej informacji.
