Jadi begini, bang/sis/lae/uda @Membetulkan @ja_rar @spa_si @ivanlanin.
Kita ada masalah. Bahasa Indonesia punya kata yang tepat untuk 'violent', yakni 'ganas', yang sangat lazim dipakai dalam Bahasa Melayu. Tapi entah kenapa, khalayak ramai sungkan menggunakannya. 

Selain definisi utama (galak, mudah menyerang), ketika mendeskripsikan ekstremisme atau ideologi ganas, definisi kedua malah jadi sangat penting (mudah menular).pic.twitter.com/lmecr5psMp
