Bahkan dalam acara wawancara dengan Pakdhe Nurhadi, sang Maskot Tronjal Tronjol pun, ngga lupa ada yang drop hashtag tentang tarif sensasional mba escort jetset itu (all the power to you, mba), yang kemudian jadi lelucon.pic.twitter.com/h7IPBhhyXu
Możesz dodawać lokalizację do Twoich Tweetów, jak miasto czy konkretne miejsce, z sieci lub innych aplikacji. W każdej chwili możesz usunąć historię lokalizacji swoich Tweetów. Dowiedz się więcej
Atau "Attention span mereka itu pendek.. mereka belum terdidik" etc
(Ya, dan dengan bikin produk boring, diselingi iklan tiap sekian menit yang bikin orang ganti channel, bentang perhatian mereka akan lebih panjang, gitu? Dan wtf, pretentious amat bilang audience bego) 
Ngga kok, ekopolnya masih banyak samanya dengan 25 tahun lalu! Bottom line tetap main. Bedanya audience sekarang lebih punya banyak pilihan dan, tampaknya, seperti saya, mereka ngga lagi memilih televisi domestik karena basi
(ini tentu opini bias, berdasar data anekdotal)
Alhasil, jadi semacam self-fulfilling prophecy: masuk dalam jebakan ayam-telur, mana duluan: Ngga perlu konten bagus, mahal, ngga laku pula. Ngga laku, karena ngga ada konten bagus, karena mahal. Lalu lowest common denominator jadi niscaya. Semua pakai formula, karena murah 
Jadi gue curiga: jangan-jangan ini memang sistemik, dan tanggung jawabnya ada di puncak. @KompasTV katro begini mungkin memang mencerminkan strategi, or lack thereof, grup induknya dalam mengarungi belantara era #KlikMahaKuasa yang menakutkan ini.
Dan @Rosianna766Hi memang dijadikan punggawa di @KompasTV justru karena upbringing dia 25 tahun lalu itu, era liberalisasi televisi, dianggap cocok untuk menavigasi belantara media masa kini (padahal, katanya, zaman udah beda) 
Jadi ya terserah Kompas sih: mau jaga brand dan tradisi jurnalistik, atau mau sama aja kayak yang lain, mereproduksi konten banal di pasar yang sudah begini jenuh, dengan kemasan formulaik yang itu-itu juga, dan latah mengikuti tren menit terakhir, sekadar menambah kebisingan..
Lalu saya? Saya sendiri akan tetap asyik-asyik aja, sans mahamaha tronjol, mengarungi belantara informasi sebagai konsumen kritis yang sebetulnya gundah bercampur kangen (longing) akan konten media lokal berkualitas.pic.twitter.com/THeivRfZ9Y
Twitter jest przeciążony lub wystąpił chwilowy problem. Spróbuj ponownie lub sprawdź status Twittera, aby uzyskać więcej informacji.