Seperti yang pernah saya bilang, bigot itu ada dan banyak juga di kalangan minoritas. Seperti bigot mayoritas, mereka pun tergerak oleh fobia yang mengakar. Bias konfirmasi mereka begitu kuat sehingga "fakta" yang mereka mau lihat hanyalah yang cocok dengan ketakutannya.
-
Pokaż ten wątek
-
Ketika melontarkan ujaran dan pendapat rasisnya, mereka sering berdalih sedang berpendapat dan berpikiran bebas. Lucunya, semesta pikiran bebas mereka itu sempit sekali, sesempit cangkang di mana mereka merasa nyaman merangkul fobia mereka.
1 odpowiedź 4 podane dalej 4 polubionePokaż ten wątek -
Dengan mereka, mustahil bisa berargumen pakai nalar, apalagi empati. Paradoksnya, kita pun sulit berinteraksi dengan mereka seperti dengan manusia. Saya pun bingung, gimana cara terbaik untuk engage mereka tanpa kita sendiri tergerus kemanusiannya. Ada ide?
5 odpowiedzi 2 podane dalej 2 polubionePokaż ten wątek -
W odpowiedzi do @kopiganja
Hanya 2 cara: 1.mereka ditempatkan dalam kemajemukan & menemukan persepsi baru, 2.kemajemukan datangi mrk & mengubah persepsi mereka. The way twitter works, you interact mostly with likeminded people. This means your viewpoints, good/bad get reverbed & amplified, solidifying it.
2 odpowiedzi 0 podanych dalej 0 polubionych -
W odpowiedzi do @Mikrolet @kopiganja
Intinya, berat ngubah pandangan seseorang via twitter.
1 odpowiedź 0 podanych dalej 0 polubionych
Ya, setuju. Maka dari interaksi tadi pagi, dari awal saya memang ngga bermaksud untuk mengubah pandangan si bigot, atau beradu pendapat dalam "pasar bebas gagasan". Tujuan saya memang untuk menelanjanginya. Lagian siapa juga kita untuk mengubah pandangan seseorang? 
Wydaje się, że ładowanie zajmuje dużo czasu.
Twitter jest przeciążony lub wystąpił chwilowy problem. Spróbuj ponownie lub sprawdź status Twittera, aby uzyskać więcej informacji.